Ya, Allah Yang Maha Pegasih. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya selama aku pergi. Engkau yang tahu apa yang ada di hatinya.
Ya, Allah Sang Pemilik Cinta. Kau berikan rasa cinta padanya untukku dan aku bersyukur. Kau buat Ia bertahan dengan cintanya dan aku bersyukur. Kau berikan aku rasa cinta padanya dan aku bersyukur. Kau buat aku pertahankan cinta ini dan aku bersyukur.
Ya, Allah Yang Maha Tahu. Kau tahu betapa aku mencintainya dan betapa aku sangat ingin menjadi yang halal baginya dan Ia menjadi halal untukku.
Ya, Allah Yang Maha Pengasih. Beri tahu Ia bahwa aku mencintainya. Beri tahu Ia bahwa aku pun menantikan saat menjadi istrinya. Amin ya rabbal ‘alamin..
Aku berdo'a dengan air mata yang mewakili rasa sesak dadaku yang amat sangat. Selepas Isya malam ini hatiku kembali biru. Segera kubereskan mukenah dan sajadah yang tadi aku kenakan. Lalu segera aku baringkan tubuhku diatas tikar yang menjadi alas tidurku.
"Astaghfirullah..." ucapku lirih.
Teringat aku pada kejadian sore tadi saat aku baru kembali ke kampung ini. Sosok waria yang aku lihat itu, tidak sengaja berdiri di hadapanku. Aku terkejut melihatnya, pun Ia terkejut melihatku.
Ya Allah wajahnya...aku seperti mengenalnya.
"Kenapa?" Ia bertanya padaku dengan wajahnya yang seperti wanita angkuh. Tapi, suaranya..
“Kamu?” aku mencoba meyakinkan hatiku kalau Ia bukanlah yang aku maksud. Tapi…
“Iya, Ai. Aku!” ia membentakku. Aku beristighfar dalam hati menenangkan hatiku. “Ada masalah? Kamu merasa tersaingi disini! Iya?” lanjutnya.
“Masya Allah, Mas. Kenapa, Mas? Kenapa! Bahkan kau terlihat buruk sekarang, tapi kau bangga. Kenapa, Mas?”
“Tidak ada yang buruk padaku. Aku bahkan terihat jauh lebih cantik darimu. Makanya aku bangga. Johan pun berkata aku cantik”
“Johan?” tanyaku.
“Iya. Dia” jawabnya sambil menunjuk ke arah lelaki yang sedang duduk sambil merokok dan tertawa bersama kawan-kawannya 3 meter di belakangnya. “Tampan, bukan?” aku hanya menganga. “Aku tidak butuh komentarmu tentang aku sekarang. Aku juga tidak mengerti maksudmu mengeluarkan air mata saat ini. Dan tidak perlu kau beri tahukan juga, karena aku tidak ingin tahu.”
Ya, aku memang menangis saat itu. Aku sangat terkejut mendengar semua yang Ia katakan.
“Apa kau masih mencintaiku, Mas?” tanyaku ingin tahu.
“Cinta? Siapa yang mencintai siapa?” Ia bertanya balik padaku.
“Bukankah kau selalu mencintaiku dan dan selalu menungguku?”
“Apa? Jangan mimpi kamu, Ai!” Ia kembali membentakku. “Tidak ada lagi yang aku tunggu, apalagi kamu!”
“Tapi, Mas…bukankah kau sangat mencintai dan selalu menjaga cintamu itu?”
“Apa maksudmu?”
“Iya, Mas. Kau selalu sabar menunggu aku. Kau selalu bisa menjaga cintamu bagaimanapun perlakuanku padamu. Kau sangat perhatian pada ibuku. Dan apakah kau tidak ingat? Kau bilang, aku akan selalu ada di setiap do’amu!” jelasku.
“Setelah kau permainkan hati ku, masih berani kamu bicara seperti itu?” Ia marah “Aku sudah berjanji dan bersumpah pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan pernah mencintai mu. Pergi kau dari hadapanku sekarang! Aku muak melihatmu!” Ia mengusirku.
“Baiklah. Aku pergi. Assalamu’alaikum.” Aku meninggalkannya tanpa peduli ia mau menjawab salam ku atau tidak.
Bersambung.......
ayooo.. teruskan menulis ay...
BalasHapussemangattt
Harus bisa ada lanjutannya neh..
BalasHapusSEMANGAD